Rabu, 28 November 2012

Sinergi Sastra dan Rekomendasi untuk Geliat Sastra



Oleh: Dimas Arika Mihardja
JELANG akhir tahun 2012, sastrawan Indonesia melakukan serangkaian iven. Keseluruhan iven yang digelar—mulai Pertemuan Sastra Indonesia di 7 (tujuh) kota yang berpuncak pada Pertemuan Pengarang Indonesia (25-27 November 2012 di Hotel Aston  dan di Benteng Fort Rotterdam). Atau sebelumnya berlangsung Pertemuan Penyair Indonesia (22-24 November 2012 bertempat di Hotel Grand Elite dan Anjungan Idrus Tintin, dan iven lain dengan skala nusantara akan menutup tahun 2012 dengan Pertemuan Penyair Nusantara VI di Jambi. Tiga iven penting ini sepantasnya dijadikan sebagai upaya mensinergikan berbagain potensi dan menghasilkan rekomendasi-rekomendasi penting terkait perjalanan sastra di masa depan. Berikut dicatat terkait tiga iven itu. 

Deklarasi Hari Puisi Indonesia
Pertemuan Penyair Indonesia (PPI) yang akan digelar 22 s.d. 24 November 2012, di Anjungan Idrus Tintin, Pekanbaru, Provinsi Riau, merupakan momentum bersejarah bagi dunia kesusastraan khususnya perpuisian Indonesia. Salah satu agenda penting kegiatan PPI yang diselenggarakan Dewan Kesenian Riau bekerja sama dengan Yayasan Sagang, Komunitas Sastra Indonesia, Majalah Horison, Yayasan Panggung Melayu, Jurnal Sajak, dan Jurnal Kritik ini adalah dideklarasikannya “Hari Puisi Indonesia”.
Penyair Jambi, Dimas Arika Mihardja (DAM), yang diundang ke PPI sekaligus salah seorang deklarator Hari Puisi Indonesia, menyatakan Hari Puisi Indonesia itu mendapatkan dukungan penuh para sastrawan, kritikus dan pengamat sastra. “Deklarasi Hari Puisi Indonesia pada acara bertajuk “Malam Deklarasi Hari Puisi Indonesia” itu dibacakan oleh Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri, didampingi oleh 37 penyair Indonesia (selaku inisiator, konseptor, dan deklarator)” jelas DAM.  “Turut memberikan sambutan adalah Gubernur Riau (H.M. Rusli Zainal), Ketua Umum Dewan Kesenian Riau (H. Kazzaini Ks), dan Ketua Pembina Yayasan Sagang (H. Rida K. Liamsi)”.
 Pada kegiatan PPI ini juga dijadwalkan pemberian Anugerah Sagang oleh Yayasan Sagang Riau kepada sastrawan, budayawan Riau dan luar Riau yang peduli pada sastra-budaya Melayu. Agenda lainnya adalah pemutaran video Hari Puisi Indonesia, musikalisasi puisi Chairil Anwar (Dewan Kesenian Riau), pembacaan puisi oleh penyair Indonesia disertai tayangan video profil para penyair, dialog sastra, dan peluncuran buku antologi puisi penyair peserta PPI.
 Peserta Pertemuan Penyair Indonesia dan Deklarasi Hari Puisi Indonesia di Riau ini adalah: Sutardji Calzoum Bachri (Presiden Penyair Indonesia), Rida K. Liamsi (Penyair, Novelis, Yayasan Sagang), Maman S.Mahayana (Kritikus Sastra, Dosen FIB UI), Agus R. Sarjono (Penyair, Jurnal Sajak dan Jurnal Kritik), Ahmadun Yosi Herfanda (Penyair, Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta), Kazzaini KS (Penyair, Dewan Kesenian Riau), Asrizal Nur (Penyair, Yayasan Panggung Melayu), Jamal D. Rahman (Penyair, Majalah Sastra Horison), D.Kemalawati (Penyair, Aceh), Acep Zamzam Noor (Penyair, Jawa Barat), Bambang Widiatmoko (Penyair,Komunitas Sastra Indonesia, KSI, Jakarta), Dorothea Rosa Herliany (Penyair, Jawa Tengah), Fatin Hamama (Penyair, Jakarta), Isbedy Stiawan ZS (Penyair, Lampung), Chavcay Syaefullah (Penyair, Banten), Hanna Fransisca (Penyair, Kalimantan Barat), Rahman Arge (Penyair, Sulawesi), Joko Pinurbo (Penyair, Yogyakarta), Prof. Dr. Suminto Sayuti (Penyair, guru besar sastra, Yogyakarta), John Waromi (Penyair, Papua), Micky Hidayat (Penyair, Kalimantan Selatan), Pranita Dewi (Penyair, Bali), Fakhrunnas MA Jabbar (penyair dan cerpenis, Riau), Taufik Ikram Jamil (penyair dan novelis, Riau), Husnu Abadi (penyair, Riau), Jefri Al-Malay (penyair, Riau), Marhalim Zaini (penyair, Riau), Hasan Aspahani (Penyair, wartawan, Kepulauan Riau), Husnizar Hood (Penyair, Kepulauan Riau), Ramon Damora (penyair dan wartawan, kepulauan Riau), Samson Rambah Pasir (penyair dan cerpenis, Kepulauan Riau), Iyut Fitra (Penyair, Sumatera Barat), Dimas Arika Mihardja (Penyair  Jambi), Hasan Albanna (penyair dan cerpenis, Sumatera Utara), Pandapotan MT Silagan (penyair, Sumatera Utara), Anwar Putra Bayu (Penyair, Sumatera Selatan).
Melalui musyawarah penyair yang berlangsung seru, tetapi juga lucu dibuahkan rekomendasi tentang Hari Puisi Indonesia yang disepakati setiap tanggal 26 Juli. Diharapkan Hari Puisi Indonesia itu tercantum pada kalender dan dijadikan pangkal tolak menyelenggarakan kegiatan hari puisi di setiap wilayah di negera Republik Indonesia. Para penyair berkomitmen ingin memajukan perpuisian Indonesia melalui berbagai aktivitas internal maupun eksternal kepenyairan. Secara internal, para penyair bertekad memajukan karya dan kekaryaannya dalam penulisan puisi. Secara eksternal diharapkan ada sinergisitas antara stakeholders: penyair, karya, pembaca, penerbit, penerjemah, kritikus, dan komunitas-komunitas yang bergerak di bidang puisi.

Pertemuan Pengarang Indonesia
Pertemuan Pengarang Indonesia yang dilaksanakan 25—27 November akan diikuti oleh ratusan peserta yang selama ini intensif hidup di dunia pengarang (penyair, cerpenis, novelis, penulis lakon, esais, dan penggerak komunitas sastra.  Lebih dari seratus pengarang Nusantara bakal berkumpul di Makassar, pekan depan. Mereka bakal mengupas nasib mereka dan perkembangan dunia sastra Indonesia saat ini.
Pertemuan Pengarang ini bakal dilaksanakan di Hotel Aston Benteng Fort Rotterdam Makassar pada 25-27 2012. Acara ini semacam forum musyawarah untuk para pengarang Indonesia.  “Mereka dapat mengungkapkan masalah mereka, kelompoknya, atau masalah yang terkait dunia pengarang,” ujar Kurnia Effendi, ketua pelaksana pertemuan ini, saat konferensi pers di Galeri Cemara, Senin, 12 November 2012.
Dari acara itu, kata Kurnia, para pengarang ini akan membuat simpulan dan mencari jalan keluarnya. Mereka bisa saling mengoreksi diri, berdamai dengan sejarah, menyatukan semangat, dan membangun kekuatan melalui karya mereka.  Acara ini merupakan kelanjutan atau puncak Temu Sastrawan Indonesia di tujuh kota beberapa waktu lalu. Para peserta adalah pengarang atau perwakilan pengarang dari 34 provinsi. Selain berkonferensi, para pengarang ini juga bakal menampilkan aksi dan karya mereka.
Budayawan sekaligus penggagas acara ini, Radhar Panca Dahana, mengatakan keprihatinannya terhadap nasib para pengarang Indonesia. Mereka terpecah-pecah menurut kelompok, keyakinan, dan kepentingan masing-masing. Hal ini terjadi sejak dulu dan kian parah saat ini. “Sektarian dan komunalisme negatif makin kuat menggejala. Jadi perjuangan sastra secara kolektif sulit dicapai, pengarang harus berjuang sendiri,” ujar Radhar yang aktif di Bale Sastra Kecapi.
Nasib pengarang seperti itu terjadi karena pengkotak-kotakan ideologis dan politis masa lalu. Radhar berpendapat para pengarang harus berani mengubah dan berdamai dengan masa lalu. “Semua tragedi dan trauma harus didamaikan demi masa depan,” ujarnya.
Dimas Arika Mihardja sebagai salah satu penyair yang diundang mewakili propvinsi Jambi menyatakan, “Gagasan besar, sebut saja aneka wacana digelar di panggung pertemuan, misalnya Pertemuan Penyair Nusantara (yangke-VI dilaksanakan di Jambi Desember 2012), kongres Komunitas Sastra Indonesia, Seminar Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI), Pertemuan sastra 3 kota, pertemuan penyair Sumatera, dan aneka geliat komunitas sastra terus memproduksi wacana yang "simpang siur dan lalu lalang" sebab tak pernah benar-benar berkelanjutan dan tuntas. “
Penyair yang juga akademisi Universitas Jambi ini menambahkan, “Mungkin telah sama-sama maklum bahwa Rumah Tangga Sastra Indonesia yang dihunin oleh Sastrawan (penyair, cerpenis, novelis, penulis skenario), ktirisi dan akademisi, media sastra, masyarakat pembaca, dan organisasi (yayasan) pengarang harus diakui kurang memberikan gambaran ekologi sastra yang sehat, sistematik, dinamik, dan prospektif. Ide dan musyawarah pembentukan ASI (Asosiasi Sastra[wan] Indonesia) yang konon memiliki fungsi advokasi, perlindungan hukum, dan mungkin dibentuknya Yayasan yang memberikan dukungan persoalan internal dan eksternal sastra perlu dipertimbangkan perwujudan kongkretnya. Gagasan membentuk yayasan, misalanya, tentulah tidak mencukupi jika semataa-mata dibincangkan antarsastrawan, melainkan juga harus menghadirkan pakar hukum dan ahli managemen organisasi.”
Dimas lalu menandaskan,  “Hal yang penting diperjuangkan dalam PPI ialah persoalan keberagaman dan keninamisan beraktivitas di dunia sastra untuk memantapkan kemandirian sebagai pelaku budaya. Keberagaman, kedinamisan, dan kemandirian adalah kunci bagi rumah tangga sastra Indonesia yang diidamkan. Kita sama-sama berharap akan dibangun rumah tangga sastra yang sehat, rukun, aman, dan damai. PPI akan memberikan dampak positif apabila digagas akrtivitas pra-pertemuan, saat pertemuan, dan pascapertemuan sebagai siklus yang terus mengarus dan berproses serta berprogres.”
Ada tiga rekomendasi dari Pertermuan Pengarang Indonesia ini, yakni terkait dengan masalah estetika, masalah internal sastra, dan masalah eksternal sastra. Banyak hal yang telah disumbangkan peserta pertemuan. Hasil rekomendasi secara lengkap akan digodog secara lebih rinci dan sistematis oleh Tim 7 yang ditunjuk dalam sidang pleno. Tim 7 ini diberi mandat menyelesaikan rekomendasi lengkap hingga 30 Desember 2012.


Pertemuan Penyair Nusantara VI Jambi
Aklhir tahun ini digelar Pertemuan Penyair Nusantara VI dilaksanakan di Jambi 28—31 Desember 2012. Iven PPN VI ini,  tentu saja menjadi klimaks serangkaian aktivitas sastra di persada nusantara. Dimas Arika Mihardja dalam penuturannya sebagai kurator dan penasihat PPN VI menyatakan, “ Iven ini menjadi penting sebab menghadirkan aahli dari berbagai belahan negeri (Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Myanmar, Korea, dll) untuk memberikan kontribusi maksimal dalam seminar Internasional yang mengusung perpuisian Melayu hari hulu hingga hilir baik dalam perspektif historis, filosofis, maupun eksistensial ”.
Seminar internasional dan musyawarah penyair yang menyangkut denyut kehidupan perpuisian nusantara memiliki arti penting sebagai upaya sinergisitas dan persatuan sastrawan memberikan kontribusi bagi kehidupan yang lebih bermakna. Kebermaknaan itu didukung oleh rangkaian acara yang memang dipersiapkan  seperti  (1) Seminar Internasional:  Agenda ini terdiri dari tujuh sesi diskusi. (2) Penelitian Perpuisian Jambi: “Perpuisian Jambi dalam Konteks Pemikiran Nusantara” (3) Orasi Budaya: Tema: Revitalisasi Perpuisian Melayu Nusantara di Era Global (4) Workshop Puisi: Kegiatan ini dikhususkan untuk guru dan peserta didik di Provinsi Jambi (5) Penerbitan Buku: Terdiri Kumpulan Puisi, Makalah, Prosiding riset tim kepenyairan Jambi, Buku puisi, dan makalah hasil refleksi PPN VI. (6) Panggung Apresiasi, (7) Temu Kerja Penyair Nusantara/Temu Delegasi Negara Peserta PPN dan (8) Bazar Buku.
Agenda acara ini seakan menjadi puncak kegiatan di akhir tahun. Melalui kegiatan ini diharapkan akan  terekomendasikan tentang sinergi berkesenian di tingkat nusantara, baik terkait perspektif teoretik, pragmatik, maupun pemanggungan hasil-hasil peradaban manausia.

Terimakasih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar